Bagi seorang Muslim, hadits ini pasti sudah tak asing di telinga. Namun, agaknya hadits ini sudah tak lagi diterapkan di masyarakat milenial. Jangankan diterapkan, bahkan mungkin hadits ini sudah dilupakan. Mungkin kurang lebihnya sama dengan nasehat lama, “Mulutmu, Harimaumu”. Andai saya boleh menilai, maka saya rasa manusia saat ini hanya menyadari bahwa mereka adalah makhluk terhebat di bumi, yang diberkahi akal untuk berpikir. Mereka berbangga dan merasa bahwa mereka jauh lebih baik dibandingkan orang lain.

Namun mereka lupa bahwa mereka diciptakan dengan dua telinga, dua mata, dan satu mulut. Artinya seharusnya indera yang diciptakan dengan lebih banyak jumlahnya digunakan lebih sering dibanding indera yang jumlahnya sedikit. Sederhananya, seharusnya kita lebih banyak mendengar dan melihat dibanding berbicara. Lebih banyak mendengar dan melihat artinya kita lebih banyak belajar dan mengenali lingkungan sekitar. Sedangkan bicara hanyalah mengulang apa yang kita lihat dan kita dengar.

Yang terjadi saat ini adalah manusia lebih senang berbicara dibanding belajar. Lebih sibuk menilai orang lain dari sudut pandangnya yang terlalu malas untuk diperluas. Empati sudah hilang dari diri mereka, menyisakan individualisme. Tak ada lagi santun dalam berkata, sabar dalam bertindak. Namun, sekali lagi Tuhan itu adil, maka diciptakan pula olehNya seonggok daging yang bila ia baik, maka baiklah keseluruhan diri tuannya, dan begitu pula sebaliknya. Daging yang kita sebut hati nurani. Untukku, hati nurani adalah hakim yang amanah. Ia akan berkata salah bila memang salah, benar apabila benar. Andai saja manusia mau mendengarkan hati nuraninya. Mengalahkan ego nya, saya rasa hidup ini akan menjadi lebih bermakna.

Saya? Ah, saya juga mungkin sama dengan kebanyakan manusia yang saya sebutkan tadi. Tulisan ini dibuat bukan untuk menilai keburukan orang lain, hanya sebagai bahan renungan untuk diri saya sendiri. Masalah tulisan ini dipublikasikan hanyalah masalah berbagi, lebih baik lagi bila mampu menjadi bahan renungan untuk yang lainnya. Being old is a must, but being wise is your own decision. Being a silent reader doesn’t mean we don’t have any thoughts. We’re just trying to observe deeper and see wider. Hold our tongue from useless words, hatred, or any forms of disrepute.

(Amanda S. SInulingga)

 

 

#apotek #obat #kimiafarmabandung #apotekkimiafarmabandung #motivasi