Penyakit TB paru merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang banyak didapatkan di Negara berkembang seperti Indonesia. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru tetapi dapat menyerang organ tubuh lainnya. Indonesia merupakan Negara kedua penderita TBC terbanyak di dunia setelah India. Penyakit TBC menyerang segala usia, rentan terhadap anak-anak dan usia Produktif (15-50 tahun). Penyakit TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lainnya seperti sistem saraf pusat (SSP). Infeksi TB pada SSP salah satunya adalah meningitis tuberkulosis, TB jenis ini sering berakibat fatal.

Meningitis adalah suatu penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada lapisan otak dan sum sum tulang belakang. Lapisan berfungsi untuk melindungi otak dari cedera dan infeksi. Meningitis TB disebabkan karena terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tahan asam masuk ke dalam tubuh melalui droplet (percikan ludah) sesorang yang terinfeksi bakteri TB. Bakteri dapat memperbanyak diri pada paru-paru, dapat menembus pembuluh darah, dan akan melalui sirkulasi pembuluh darah dan dapat menyebar ke berbagai organ salah satunya otak. Proses infeksi yang terjadi pada otak dapat menyebabkan peningkatan tekanan dalam kepala yang menyebabkan rusaknya saraf dan jaringan dalam otak.

 Gejala Meningitis TB

Gejala meningitis TB biasanya tidak terjadi secara spesifik dan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Gejala awal yang dirasakan pada meningitis TB adalah sakit kepala terus menerus, merasa lesu, mual, demam dan tidak nafsu makan. Gejala lain yang dapat dirasakan selanjutnya dapat berupa sakit kepala yang semakin buruk yang disertai dengan kaku pada bagian leher, kesadaran menjadi menurun, dan dapat terjadi adanya kelumpuhan pada saraf.

Faktor Resiko :

  1. Kontak langsung dengan penderita TB dengan lama paparannya seperti ada anggota keluarga yang terinfeksi TB maka faktor resiko kemungkinan dapat terjadi penularan
  2. Faktor usia : usia lanjut dan anak-anak lebih beresiko tinggi terkena TB karena sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat sehingga lebih mudah untuk terinfeksi TB
  3. Kondisi lingkungan : pemukiman tempat tinggal dengan padat

Terapi dan Pengobatan :

pemeriksaan fisik oleh dokter, pemeriksaan laboratorium, foto rontgen dada, dan pemeriksaan cairan otak. Tujuan  tersebut adalah untuk mengetahui kebenaran terkait dengan diagnosis apakah seseorang menderita penyakit meningitis yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosis atau meningitis akibat lainnya. Apabila dari hasil  pemeriksaan seseorang menderita penyakit meningitis TB maka akan diberikan obat antituberkulosis seperti Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin yang diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama. Selanjutnya obat rifampisin dan isoniazid akan diteruskan selama 10 bulan untuk mengurangi resiko terjadinya resistensi obat. Selama menjalani pengobatan meningitis TB, penderita di sarankan untuk melakukan Kontrol rutin untuk dapat dipantau terkait respon pengobatan adanya efek samping akibat obat, dan perkembangan penyakitnya.

Pencegahan Meningitis TB

Penyakit meningitis TB dapat dicegah dengan pemberian vaksin BCG. Pola hidup sehat dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat menurunkan resiko terkena penyakit meningitis TB. Meningkatkan kebersihan lingkungan dan memastikan sirkulasi udara di timpat tinggal dalam kondisi yang baik.