Diare merupakan salah satu penyebab angka kematian tertinggi pada anak, terutama anak dibawah usia 5 tahun. Di dunia, sebesar 6 juta anak meninggal setiap tahunnya karena diare, dimana sebagian kematian tersebut terjadi di negara berkembang .

Data menunjukan bahwa seorang bayi ( umur kurang dari 1 tahun ) atau anak balita ( 1-4 tahun ) mendapat serangan diare 1 sampai 2 kali dalam setahun. Penderita diare pada semua golongan umur di Indonesia berkisar 160 – 300 per 1000 penduduk setiap tahun, dari jumlah penderita diare ini sebanyak 60 – 70 % diantaranya adalah bayi dan balita . 15 % kematian bayi dan 26,4 % kematian pada anak balita disebabkan oleh penyakit diare (sardjana,2007).

Masih tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare diakibatkan oleh beberapa faktor diantanya yaitu hygiene yang kurang baik perorang maupun lingkungan,pola pemberian makanan, keadaan social ekonomi dan social budaya, maupun pendidikan / perilaku masyarakat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi penyakit diare serta keadaan gizi / nutrisi yang belum memadai pada saat diare.

Dalam upaya Pembangunan kesehatan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ditandai dengan tingkat kesehatan penduduk yang meningkat. Upaya promotif dan preventif dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan bangsa dan masyarakat dapat dilakukan dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, adalah bagian dari perilaku hidup sehat yang merupakan salah satu dari tiga pilar pembangunan bidang kesehatan yakni perilaku hidup sehat, penciptaan lingkungan yang sehat serta penyediaan layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Perilaku hidup sehat yang sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan pribadi dan pentingnya berperilaku hidup bersih dan sehat.

Cuci tangan sering dianggap sebagai hal yang sepele di masyarakat, padahal cuci tangan bisa memberi kontribusi pada peningkatan status kesehatan masyarakat. Cuci tangan merupakan tehnik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan penularan infeksi. Penelitian yang dilakukan oleh  Luby,  et al  (2009), mengatakan bahwa cuci tangan dengan sabun secara konsisten dapat mengurangi diare dan penyakit pernafasan. Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mengurangi diare sebanyak 31 % dan menurunkan penyakit infeksi saluran nafas atas (ISPA) sebanyak 21 %. Riset global juga menunjukkan bahwa kebiasaaan CTPS tidak hanya mengurangi, tapi mencegah kejadian diare hingga 50 % dan ISPA hingga 45 % (Fajriyati, 2013).

  • Apa yang definisi diare ?
  • Apa saja bahaya yang disebabkan oleh diare ?
  • Bagaimana cara mencuci tangan dengan baik ?

Definisi Diare

Diare adalah keadaan frekuansi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan  lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat bercampur dengan lendir dan darah atau lendir saja ( Ngastiyah, 2005 ).

Bahaya Diare

Dua bahaya yang diakibatkan oleh diare, yaitu kematian dan kurang gizi. Kematian karena diare akut (berlangsung selama 14 hari) disebabkan oleh kehilangan air dan garam dalam tubuh , kehilangan ini disebut dengan dehidrasi. Diare juga dapat mengakibatkan kurang gizi karena, :

  1. Pada diare makanan hilang dari tubuh
  2. Zat makanan digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak, bukan untuk pertumbuhan.

Pada diare akut ada beberapa perubahan yang terjadi akibat diare, yaitu kehilangan cairan, hipoglikemia, gangguan gizi dan gangguan sirkulasi . dari segi nutrisi, diare dapat berakibat buruk padakeadaan gizi melalui 4 mekanisme , yaitu :

  1. Pemasukan makanan berkurang karena anoreksia, kebiasaan mengurangi / meniadakan pemberian makanan .
  2. Absorpsi makanan berkurang karena kerusakan mukosa usus
  3. Metabolism fungsinya terganggu karena pada keadaan infeksi sistemik
  4. Kehilangan langsung cairan dan elektrolit, serta kehilangan nitrogen melalui tinja dan keluarnya plasma protein dan darah karena kekurangan jaringan usus.

Pencegahan diare

Tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran dan bibit penyakit. Ketika memegang sesuatu, dan berjabat tangan, tentu ada bibit penyakit yang melekat pada kulit tangan kita. Telur cacing, virus, kuman dan parasit yang mencemari tangan, akan tertelan jika kita tidak mencuci tangan dulu sebelum makan atau memegang makanan. Dengan cara demikian umumnya penyakit cacing menulari tubuh kita. Di samping itu, bibit penyakit juga dapat melekat pada tangan kita setelah memegang uang, memegang pintu kamar mandi, memegang gagang telepon umum, memegang mainan, dan bagian-bagian di tempat umum (Potter & Perry, 2005). Melalui tangan kita sendiri segala bibit penyakit itu juga bisa memasuki mulut, lubang hidung, mata, atau liang telinga, karena kebiasaan memasukkan jari ke hidung, mengucek mata, mengorek liang telinga, bukan pada waktu yang tepat (pada saat tangan kotor), dan ketika jari belum dibasuh (belum cuci tangan).

Salah satu cara dalam pencegahan terhadap diare adalah hygiene seperti mencuci tangan. Cuci tangan sering dianggap sebagai hal yang sepele di masyarakat, padahal cuci tangan bisa memberi kontribusi pada peningkatan status kesehatan masyarakat. Cuci tangan merupakan tehnik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan penularan infeksi. Gerakan Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan cuci tangan dengan sabun, mulai dicanangkan oleh pemerintah di masa menteri kesehatan. Gerakan yang dicanangkan adalah “Gerakan Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun”. Gerakan ini dilakukan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk pengendalian risiko penyakit yang berhubungan dengan lingkungan, seperti penyakit diare, penyakit kecacingan, dan tifoid yang sebenarnya dapat dicegah dengan kebiasaan buang air besar di jamban, penyediaan air minum dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum menjamah makanan”. Program pemerintah dalam mencanangkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sejak tahun 2008 didukung penelitian WHO (2013) menunjukkan kejadian diare menurun 32% dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi dasar, 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun, dan 39% perilaku pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga.

Menurut Who ada 6 langkah cara mencuci tangan dengan baik

Kesimpulan Dan Saran

Hubungan antara perilaku cuci tangan dan insiden diare menunjukkan ada hubungan yang signifikan. Kejadian diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor lingkungan, faktor risiko ibu dna faktor risiko pada anak. Cuci tangan merupakan tindakan pencegahan yang murah, namun efektif untuk menurunkan penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan (misalnya diare).

Tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan perhatian pada faktor-faktor penyebab diare selain cuci tangan dan tetap meneruskan kampanye cuci tangan untuk meningkatkan kesadaran pada masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. Kebiasaan anakanak mengkonsumsi jajanan secara bebas, ditambah anak-anak tidak melakukan cuci tangan sebelum makan menyebabkan berbagai kuman penyebab penyakit mudah masuk ke dalam tubuh, karena tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran dan bibit penyakit.